Hai! Bulan Februari kemarin tidak ada postingan apapun dikarenakan mulai sibuk bermacam-macam. Revisi mandiri untuk seminar proposal juga bekerja demi kelangsungan hidup anak manusia yang satu ini. Hari ini aku mau cerita cerita aja sesuai judulnya!
PPL Daring yang Belum Pernah Terjadi
Tahun 2020 adalah tahun corona. Pandemi ini mematikan hampir seluruh aktivitas yang melibatkan perkumpulan banyak orang. Mencuat kabar bahwa virus yang satu ini dapat menyebar lewat benda yang bisa bertahan dalam waktu tertentu juga dapat menyebar lewat udara. Kemunculan pernyataan dari lembaga kesehatan dunia membuat berbagai fasilitas umum kemudian ditutup di hampir seluruh wilayah di dunia.
Sekolah tidak luput dari sekian banyak fasilitas umum yang ditutup.
Umumnya, sekolah adalah salah satu tempat dimana terjadi perkumpulan siswa
yang sedang menuntut ilmu. Namun akibat efek dari pandemi, terpaksa siswa
diharuskan belajar di rumah demi mencegah penyebaran virus lewat klaster baru.
Siswa berinteraksi dengan guru maupun siswa lainnya melalui media daring
seperti media sosial atau media pertemuan virtual. Ternyata kegiatan sekolah
daring ini membuat cerita baru dan berbeda di dalam hidupku, juga teman-teman
ku yang telah merasakan manis pahitnya PPL (Praktik Pengalaman Lapangan)
angkatan corona karena mungkin PPL tahun depan sudah kembali normal,
insyaaAllah. Angkatan kami kebetulan melaksanakan PPL tahun 2020 tapi Allah
punya rencana lain dan membuat situasi berbeda yaitu dengan munculnya pandemi.
Maka dari itu hari ini akan kuceritakan bagaimana kisahku menghadapi seluk
beluk PPL daring ☺.Yah, baru posting padahal kejadiannya sudah agak lama :D. Tapi yasudah ya, siapa tau kalian penasaran seperti apa rasanya PPL zaman daring.
Sebelum peristiwa dunia ini melanda, awalnya mahasiswa fakultas FKIP dijadwalkan akan melakukan PKL (Praktik Kegiatan Lapangan) semacam study tour ke provinsi lain. Intinya mungkin sama saja. Namun lagi-lagi dikarenakan efek pandemi, hampir semua penerbangan saat itu ditutup dan tidak diperbolehkan ada yang berpergian keluar-masuk kota. Alhasil, kami melaksanakan PPL ketimbang PKL dalam kurun waktu dua bulan. Aku melaksanakan PPL bersama dua orang temanku. PPL yang dimaksud adalah mengajar di sekolah di dalam kota. Aku justru senang karena tidak perlu membayar tiket pesawat dan hotel. Cukup untuk bensin saja 😆. Seperti kata emak "Musim begini masih saja berencana ke luar kota. Tidak tahu apa sekarang sedang sulit mencari uang? Tidak tahu resikonya apa?". Karena aku tipe anak yang tidak terlalu hobi liburan ke luar daerah, aku sepenuhnya setuju dengan kata-kata sakti emak ku 😆.
Kendala
Kembali ke topik. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, kami sebagai 'pengajar' harus tetap melaksanakan pembelajaran dan bertugas di sekolah, sementara siswanya berada dirumah. Kami akhirnya disarankan menggunakan media pertemuan virtual.
Dengan gaya aktivitas belajar mengajar yang baru, kendala baru pun muncul yang mana belum pernah terjadi sebelumnya.
Pertama, waktu itu kami mengajar siswa SMP kelas 7. Ini ku kategorikan menjadi
kendala karena asumsinya mereka baru lulus SD lalu tiba-tiba kenyataan
mengharuskan mereka terbiasa dengan ponsel. Menurutku mereka masih belum
umurnya menggunakan itu 😟. Menurutku, anak seumuran seperti itu mestinya masih belum terlalu jauh dari kata bermain, bereksplorasi dengan dunia, dan menemukan jati diri.
Kedua, tidak semua siswa dapat mengakses aplikasi pertemuan virtual. Ada yang memori internalnya tidak mencukupi sehingga aplikasinya tidak bisa terpasang. Ada juga yang kesulitan saat mendaftar akun.
Ketiga, dari kendala kedua, ternyata tidak semua siswa memiliki ponsel sendiri
yang memadai sehingga otomatis tidak bisa mendapat kabar dari guru dan
mengikuti pelajaran. Kalau bahasa kita itu, 'Hape kentang'. Hal ini disebabkan
karena sekolah tempat kami melaksanakan praktik berada di wilayah pinggiran
kota yang mana tingkat ekonomi warganya berbeda dengan masyarakat di wilayah
lainnya yang cenderung lebih tinggi dan lebih mampu. Konsep ponsel di daerah yang cenderung seperti itu kurang lebih "Asalkan
hp nya bisa bunyi, bisa nelpon atau SMS itu sudah cukup". Ada pula siswa yang meminjam ponsel orang tuanya. Jadi, terkadang mereka
yang tidak memiliki ponsel bisa datang ke sekolah dan belajar seperti les
privat dengan guru atau sekedar mengumpulkan PR yang diberikan kemudian berjalan-jalan menikmati suasana sekolah yang sunyi seperti tidak bernyawa. Ya, menurutku... "Sekolah kehilangan nyawanya"
![]() |
| Sekolah tempatku melaksanakan PPL |
Keempat, kurangnya keterlibatan siswa baik dalam kelas daring atau pengumpulan PR. Ya, sebagian karena didukung oleh kendala kedua dan ketiga. Mungkin sebagian lagi karena malas atau lupa ada kelas hari ini. Untuk penugasan, aku mencoba untuk memahami kondisi mereka yang bisa jadi mengeluh seperti aku dulu karena kebanyakan PR. Karena dosen pembimbing menyarankan mesti evaluasi di tiap pertemuan, akhirnya aku membuat soal dengan level mudah dan berjumlah sedikit. Kadang kuvariasikan sedikit agar tidak membosankan. Gambar-gambar dan warna juga kuusahakan ada di soal sehingga menarik siswa, dengan harapan mereka mau mengerjakannya. Apalagi mata pelajaran yang ku 'ampu' adalah bahasa Inggris dimana... tau sendiri kan kadang-kadang siswa itu kalau membaca sedikit saja yang berbahasa Indonesia aja susah, apalagi bahasa asing 😂. Sangat kuusahakan agar mereka mampu memahami instruksi yang diberikan meskipun tidak jauh berbeda dengan sekolah normal. Ini adalah gambar gambar yang ku desain sendiri di HP yang memuat soal latihan.
![]() |
| Permainan Cari Kata dalam materi Greetings |
![]() |
| Matching Game dalam materi Things at Home |
![]() |
| Soal Latihan dalam materi Telling Time |
Hmm, mungkin masih perlu banyak perbaikan yaa hehehe...
Oh iya, tentang soal, kadang jawabannya ada yang nyeleneh 😅. Seperti ini nih...
Mendapat respon seperti ini, sepertinya keseriusan siswa tersebut dalam belajar perlu untuk dipertanyakan 😊. Selain itu, ada juga yang membuatku senyum senyum sendiri 😂. Nah, ini salah satu jawaban mereka dalam Matching Game tadi melalui Google Form. Sepertinya si anak melewatkan untuk membaca instruksinya atau bagaimana ya kira-kira? 😅
Di satu sisi, aku merasa iba ketika mendengar cerita guru pamong kami bahwa di kelas yang aku ajari, salah satu dari mereka ada yang sambil berdagang kue keliling kampung untuk membantu orang tuanya mencari nafkah. Orang tuanya bekerja sebagai buruh lepas dan anak tersebut tidak mempunyai gawai yang mumpuni untuk mengikuti pembelajaran. Karena itu, sekolahnya jadi terabaikan 😟. Memprihatinkan memang di umur seperti itu ternyata ada yang harus memenuhi kewajiban lain, yaitu membantu orang tuanya 😟. Selain itu, ada juga siswa yang tidak ada kabar sama sekali. Biasanya yang tidak pernah mengumpul PR namun masih tergabung dalam grup percakapan. Sebagai tindak lanjut dari sekolah, didatangkanlah guru BP ke rumah siswa yang bersangkutan. Ternyata siswanya lebih malas selama masa-masa dirumah saja. Ah, pandemi ini cukup membuat ribet ya...
Mencari Solusi...
Masalah baru, solusi baru. Akibat empat kendala baru yang bermunculan di atas, kami mencoba memutar otak, bereksplorasi
sendiri bagaimana caranya agar tetap bisa mengajar meskipun tidak melalui
pertemuan virtual dan medianya mudah diakses bagi siswa. Akhirnya, kami
menggunakan google clasroom dan google form untuk memberikan materi atau PR. Sebenarnya, aku ingin mereka lebih banyak melakukan project yang melibatkan aktivitas fisik, agar tidak melulu membaca dan mendengarkan penjelasan yang dari dulu sudah sering dinilai membosankan. Tapi ya mau bagaimana lagi. 😌
Materi yang kubagikan biasanya hanya video pendek dari youtube. Tidak kujelaskan secara verbal layaknya pembelajaran langsung yang kuidamkan. Jika aku sedang rajin atau memiliki ide lebih, aku bisa saja membuat video pembelajaran sendiri. Ya, aku tau membuat video itu prosesnya panjang, tidak mudah dan sangat membutuhkan waktu. Video pembelajaran sebisa mungkin harus membuat penonton tetap berada sampai akhir video. Dengan begitu mereka dapat menyimak dengan baik *meskipun aku tidak tau mereka menyimak atau tidak :'). Ya, tahun ini menjadikan semuanya berbeda!
Masalah Internet Sempat Melanda
Pernah ada satu kejadian dimana internet sekolah sedang sibuk yang menyebabkan
tidak berfungsinya jaringan internet di sekolah selama beberapa jam sejak
pagi. Yang membuat cemas, hari itu juga kami menjadwalkan pertemuan virtual dengan
siswa. Akhirnya, pertemuan itu tertunda dan molor cukup lama. Oh iya, kami melaksanakan pertemuan virtual hanya dua kali selama PPL. "Setidaknya ada" kata dosen pembimbing kami.
Sekitar hampir siang, jaringan internet kembali normal dan kami bergegas meminta siswa kami untuk bersiap. Karena daring ini pun tidak jarang siswa terlambat masuk yang menyebabkan kelas lebih tertunda karena belum memenuhi jumlah minimal. Hampir semua dari mereka sudah masuk jam-jam mengantuk ingin tidur siang 😅. Di satu sisi, aku merasa kasihan, tapi aku juga harus menyelesaikan pertemuan tersebut karena kebetulan, itu adalah pertemuan virtual terakhir sebelum esok harinya lebih fokus mengerjakan laporan PPL. Ketika aku mengecek pemahaman mereka, aku sangat sering tidak mendapat respon yang membuatku khawatir. Pertemuan virtual itu akhirnya berakhir ketika waktu hampir adzan ashar.
Manis Pahit
Apa ya bagian manisnya? 😂. Mungkin lebih banyak pahitnya ketimbang manisnya 😅.
1. RPP yang biasa berlembar-lembar berubah menjadi satu lembar tanpa diikuti lampiran materi dan lembar kerja siswa (anak FKIP pasti faham). Bahkan RPP satu lembar itu selesai dalam waktu 15-30 menit saja. Kalau lembarnya banyak, biaya cetak RPP juga lebih banyak dong 😂
2. Ilmu baru di dunia per-daring-an
3. Begitu mudahnya memberikan materi dengan hanya menyalin tautan youtube kemudian meminta siswa untuk menontonnya
4. Begitu mudahnya membuat soal yang setelah dibuat, kemudian bagikan
tautannya. Atau mencari gambar yang berisi soal di intenet, disimpan, kemudian
dikirim ke grup percakapan. Bahkan dapat dilakukan di waktu yang mepet
sekalipun. (soalnya aku pernah kelupaan merancang soal evaluasi 😂)
5. Laporan PPL yang tidak begitu tebal karena jumlah lampiran (yang biasanya paling banyak) menurun drastis. Karena biasanya ada lampiran-lampiran lain yang ditulis selama di sekolah dalam pembelajaran tatap muka seperti jurnal harian, jam berapa pelajaran dimulai dan kapan berakhirnya. Dana cetak laporan PPL juga ikut berkurang karena lembarnya yang sedikit 😊 (iya, kami perlu mencetak laporan PPL untuk arsip sekolah, plus dosen pembimbing kami yang waktu itu meminta laporan berbentuk fisik :)) )
Dan pahitnya...
1. Tidak bisa bertemu siswa, melihat karakter siswa secara langsung sehingga tidak bisa mengakrabkan diri secara langsung
2. Tidak bisa merasakan sensasi langsung menjadi guru pengajar dengan suasana sekolah seperti biasanya
3. Sulitnya memanajemen kelas
4. Karena daring, kami tidak ditantang bagaimana mengatur alokasi waktu sesuai RPP seperti biasanya
5. Tidak semua siswa mempunyai gawai/ponsel yang mumpuni untuk pertemuan virtual
6. Kurangnya keaktifan siswa di dalam kelas daring
7. Motorik siswa jadi kurang terlatih
8. Minat siswa terhadap pembelajaran daring cenderung kurang
9. Siswa lebih cepat bosan
10. Sulit mengadakan diskusi kelompok selama pembelajaran berlangsung
Mungkin kelihatannya PPL daring ini sangat sederhana dan terlihat sangat mudah. Kami akhirnya tidak jadi memakan kata-kata horor dari senior yang telah lebih dulu melaksanakan PPL di tahun sebelumnya, yang mana lebih melelahkan. Namun, di PPL daring ini, ada sedikit rasa cemas yang muncul. Kelak ketika telah benar-benar menjadi seorang tenaga pengajar, mungkin kami tidak akan mengajar secara daring lagi melainkan kembali mengajar di dalam kelas. Artinya, harus kembali latihan dan belajar beradaptasi di lingkungan sekolah seperti yang biasanya dikenal, dan kami kemungkinan tidak akan mengajar secara daring seperti yang telah dilatih di PPL ini. Kok jadi tidak autentik ya? 😅😅
Hmm, sebenarnya aku sangat rindu berbagi sesuatu disini. Namun sebagai mahasiswa tingkat akhir, ada lain lain hal yang lebih diprioritaskan. 💪😊
Apa kalian juga merupakan mahasiswa PPL angkatan corona? Cerita apa yang masih kalian ingat? :)
Hai! Periksa juga tulisan di awal bulan Maret. Terimakasih 😉
Lighting up the whole world!!




Komentar
Posting Komentar
form