Langsung ke konten utama

Ulasan Film "Tanah Cita-Cita"

Hai! Pada tulisan pertama kali ini aku ingin mengulas sebuah film yang disutradai oleh Mahapatih Anton berjudul Tanah Cita-Cita. Film ini dirilis pada tahun 2016 dan mengangkat tema pendidikan. Aku pertama kali menonton film ini karena pada tanggal 3 September 2020 yang lalu pernah tayang di TVRI Nasional. Melihat cuplikan film yang menarik perhatianku, aku akhirnya memutuskan untuk menonton film ini. Banyak pesan yang dapat diambil dari film ini sehingga bagiku, ini tidak mengecewakan.

Tanah Cita-Cita (2016)
Tanah Cita-Cita (2016)

Film ini berkisah tentang seorang guru bernama Rayhan yang setiap harinya pergi ke sebuah sekolah berdinding rotan di pedesaan kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Karena sekolah tersebut kekurangan tenaga pengajar, Rayhan (atau pak Rayhan) yang menjadi kepala sekolah pun akhirnya berperan menjadi pengajar. Rayhan mempunyai mimpi untuk membantu mewujudkan cita-cita anak didiknya melalui sekolahnya. Akhirnya Rayhan melakukan inovasi-inovasi dalam pembelajaran yang mana sangat jarang digunakan sebelumnya. Setiap kali bersama pak Rayhan, siswa-siswanya selalu tertarik dengan apa yang disampaikannya. Pak Rayhan juga mengajak siswa-siswinya untuk pergi ke pertanian, bukit, hingga peternakan agar mereka dapat belajar secara langsung.

Namun, hal yang dilakukanya tidak selalu berjalan mulus. Suatu hari, ia ditentang pihak orang tua dan masyarakat karena proses belajar mengajar yang tidak biasa dan berlangsung bukan di dalam kelas. Menurut mereka, pembelajaran semestinya berlangsung di dalam kelas seperti pada umumnya. Mendapati hal itu, pak Rayhan tegar dan tetap konsisten dengan apa yang sudah dilakukannya. Menurutnya, hal itulah yang semestinya dilakukan. Akhirnya, konflik-konflik lain juga muncul silih berganti kepada si tokoh utama ini.

Film ini menyiratkan tentang istilah merdeka belajar. Dimana belajar yang merdeka adalah bereksplorasi dengan alam dan tidak harus selalu terikat kepada aturan-aturan sekolah. Teknologi juga bukanlah suatu hal yang wajib digunakan demi kegiatan pembelajaran yang bermakna, akan tetapi yang lebih utama adalah menyangkut kepada bagaimana sebuah pembelajaran dapat digunakan, diterapkan, diaplikasikan di kehidupan nyata oleh siswa. Dalam hal ini disebut pembelajaran bersifat autentik.

Di sisi lain, film ini juga menceritakan kesetiaan seorang tenaga pengajar terhadap profesinya. Meskipun sempat ditolak oleh masyarakat dan orang tua, seorang tenaga pengajar tetap bersabar karena sadar orang tua kedua untuk siswa-siswinya adalah guru (tenaga pengajar). Maka dari itu, bimbingan yang penuh kasih sayang itu diperlukan. Meskipun seorang tenaga pengajar hidup sederhana, akan tetapi ketika dia ikhlas terhadap profesinya, tujuan utama mereka bukan lagi uang atau materi. Akan tetapi melihat anak didiknya berhasil menjadi orang berguna di masa depan, itu sudah sangat membahagiakan bagi mereka. Setianya tokoh utama dalam mengemban profesi sebagai guru dan kepala sekolah demi mencerdaskan anak-anak Indonesia memang layak diberi jempol serta sepak terjangnya dapat dijadikan contoh oleh para pegiat pendidikan yang sedang berjuang.

 

Seperti yang telah disebutkan di atas, film Tanah Cita Cita bertemakan pendidikan. Berdasarkan sudut pandangku sendiri, arti dari judul Tanah Cita Cita maksudnya semua orang dapat meraih cita-citanya di tanah sendiri. Film ini mengkritik secara halus bagaimana arah pendidikan Indonesia saat ini terus menurun kemajuannya. Sayangnya, film-film mendidik seperti ini sangat sering luput dari perhatian media lokal maupun nasional 😟. Film ini saya rekomendasikan kepada para pegiat pendidikan serta mahasiswa yang sedang belajar di bidang pendidikan. Rekomendasi ini tentu dengan harapan dapat memantik semangat dalam diri agar ikut berusaha menciptakan pendidikan Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Aku pribadi ingin menyampaikan sedikit pesan. Pendidikan kita sangat perlu kita perbaiki. Sejauh yang aku lihat sebagai mahasiswi bidang pendidikan, pendidikan saat ini masih belum mengedepankan potensi dan mengembangkan bakat yang dimiliki siswa. Siswa hanya dijejali materi-materi yang belum tentu bisa digunakan di dalam kehidupannya sehari-hari. Selain ilmu pengetahuan, etika dan adab tentu lebih penting seperti kutipan "adab lebih tinggi daripada ilmu" yang mana, sebelum mempelajari suatu ilmu ada baiknya kita memperbaiki adab lebih dulu. Serta, orang tidak akan menjadi baik ketika dia berpendidikan tinggi (banyak ilmunya), tapi masih suka menghina orang lain (kurang adabnya). Betul? :D

Setelah selesai membaca, mari kita renungkan sebuah kutipan dari seorang tokoh terkenal, Kita pasti pernah mendengarnya :)

 

Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kamu gunakan untuk mengubah dunia.

 - Nelson Mandela

Akhir kata, mohon maaf apabila terdapat kesalahan penulisan ataupun kata yang kurang berkenan di hati tamu undangan sekalian 😁. Apabila kalian mempunyai saran, mohon tuliskan pada kolom komentar supaya tulisan di blog ini kedepan bisa menjadi lebih baik >< 😃.

Terimakasih telah membaca, semoga bermanfaat! :)

Komentar